Copyright © Supangat Abdurrafi
Mobile: 0815-972-8337
Email: supangatabdurrafi@yahoo.com
Milikilah asuransi saat anda  "merasa tidak perlu",  sebab saat anda  "merasa perlu"  jangan-jangan sudah terlambat.
Home Konsep Dasar Belajar Produk Data Asuransi Cara Klaim Belajar Polis Renungan






 Menabung 

Protected by Copyscape Plagiarism Finder

Menabung atau saving dimaksudkan untuk membiasakan diri supaya ketika anda memperoleh pendapatan tidak anda habiskan untuk belanja bulanan. Pendapatan anda, setelah dikurangi dengan pajak, zakat, perpuluhan, sodaqoh, atau apapun namanya, harus ada yang anda sisihkan ke dalam tabungan terlebih dahulu sebelum anda berbelanja.

Uang yang anda sisihkan secara rutin itu lama-lama akan terkumpul menjadi jumlah yang besar. Uang tersebut dapat berfungsi sebagai dana cadangan untuk keadaan-keadaan tertentu yang memerlukan pengeluaran lebih besar dari biasanya; contohnya adalah saat anak masuk sekolah, pernikahan anak, renovasi rumah, dan sebagainya.

Dalam kehidupan sehari-hari mungkin anda sering melihat - atau mendengar - orang yang berkomentar, "Jangankan untuk menabung, untuk makan saja susah. Apa yang mau ditabung ? Nanti kalau untuk memenuhi kebutuhan pokok sudah ada lebihnya, pasti saya menabung." Sepintas kalimat itu kedengarannya masuk akal. Namun justru pola pikir seperti itulah yang biasanya membuat orang tidak mempunyai tabungan. Karena - orang yang sama - jika dia mau merubah pola pikirnya, pasti mempunyai tabungan. Bagaimana seharusnya ? Dibalik. Jangan menunggu ada kelebihan baru mau menabung. Caranya, berapapun penghasilan yang anda dapat, sisihkan dulu sejumlah tertentu - entah seribu atau dua ribu, entah satu juta atau dua juta - untuk ditabung. Dengan begitu maka anda pasti punya tabungan.

Namun perlu diperhatikan dengan bersungguh-sungguh bahwa sebaiknya uang yang anda simpan di dalam tabungan itu tidak usah terlalu banyak; sekedar cukup untuk cadangan biaya rutin selama 6 - 12 bulan. Artinya adalah bahwa uang yang anda simpan di dalam tabungan ini sebaiknya benar-benar hanya untuk cadangan jangka pendek, untuk likuiditas rutin, supaya cadangan cash anda tidak terlalu ketat. Kalau tiba-tiba anda kehilangan pekerjaan, atau usaha anda bangkrut, setidaknya anda punya cadangan untuk biaya rutin 6 sampai 12 bulan, dan diharapkan sebelum 6 bulan anda sudah mendapatkan sumber pendapatan ( income ) yang baru. Nah, uang anda yang lain, termasuk yang untuk cadangan biaya pendidikan anak, renovasi rumah, pernikahan anak, dan lain-lain, sebaiknya anda tempatkan di tempat yang lain yang lebih produktif. Mengapa demikian ? Mari kita cermati pelajaran penting yang disampaikan oleh Michael Tjoajadi, direktur PT. Schroder Investment Management Indonesia ( SIMI ), sebagaimana dimuat di dalam Majalah Investor edisi 15 - 28 Januari 2007:

"Tidak ada orang yang kaya dari deposito. Bila menginvestasikan uang di bank, berarti dengan sengaja memiskinkan dirinya. Karena aset yang diinvestasikan di deposito akan termakan pajak dan inflasi. Jumlah uang bertambah, tetapi purchasing power berkurang. ..."

Nah, mengapa beliau mengatakan seperti itu? Bagaimanakah hubungan antara imbalan deposito / tabungan, pajak, dan inflasi ?
Inilah perhitungannya:

Artinya, jika hari ini anda membawa uang saldo anda yang Rp 10,600,000 itu untuk berbelanja, anda hanya bisa mendapatkan barang / jasa yang tahun lalu harganya Rp 9,911,000.

Perhitungan seperti ini juga bisa anda temukan di dalam Tabloid Kontan edisi 19 Januari 2004.

Itulah sebabnya penting sekali bagi anda untuk menempatkan uang pada instrument yang tepat. Kunci pertamanya adalah bahwa instrument tersebut harus bisa memberikan imbal hasil ( return ) yang lebih tinggi dibandingkan angka inflasi. Jadi anda perlu melakukan investasi dengan baik. Akan tetapi, sebelum anda melakukan investasi, ada hal penting yang harus anda dahulukan, yaitu membangun proteksi pendapatan. Kalau itu sudah anda lakukan, baru anda lakukan investasi.

*****


Top